5 Budaya Unik yang Cuman Berada di Bali

muzweek.net – Riwayat menulis, Bali mempunyai dunia kecil dengan kekayaan adat, tradisi, legenda, dan seni sebagai epitome spesial.

Semua itu juga tidak terluput dari kehadiran agama Hindu di pulau dewata. Semuanya sama-sama berkaitan, mempengaruhi, dan membuat kebudayaan wilayah Bali. Lalu, budaya apa yang berada di Pulau Bali? Yok, cari info di sini!

Upacara Ngaben

Upacara Ngaben – sebagai sisi dari tuntunan agama Hindu. Adat ini mempunyai tujuan untuk menyucikan roh orang wafat. Memiliki bentuk berbentuk pembakaran mayat yang ditempatkan dalam sebuah tempat. Sesudah jadi abu, faksi keluarga molorungkan ke laut atau sungai sebagai pertanda melepas jiwa supaya berpadu dengan Si Pembuat.

Ada lima wujud upacara Ngaben, yakni Ngaben Sawa Wedana, Ngaben Asti Wedana, Swasta, Ngelungah, dan Warak Krunon. Untuk acara kremasi mayat yang utuh, faksi keluarga lakukan Ngaben Sawa Wedana. Bila pernah dikubuh awalnya, disebutkan Ngaben Sawa Wedana. Dalam pada itu, Swasta diaplikasikan jika mayat tidak diketemukan. Khusus anak-anak dan bayi, diselenggarakan upacara Ngelungah atau Warak Krunon.

Gebug Ende Seraya

Gebug Ende Seraya – Saat kecil dahulu, sudah pernahkah Anda dipukul memakai rotan? Tentu berasa sakit, kan? Tetapi, untuk aktor adat Gebug Ende Sambil, rasa itu harus diacuhkan. Masalahnya budaya ini perlu dijalani agar turun hujan.

Umumnya, Gebug Ende Seraya diselenggarakan pada musim kemarau di Dusun Seraya. Warga di tempat mempercayai jika adat itu sanggup hentikan kekeringan di kampong mereka. Apa lagi, disaksikan dari letak geografisnya, Dusun Sambil termasuk teritori tandus dan kering.

Gebug Ende dilaksanakan dengan mempertemukan 2 orang. Masing-masing bawa senjata berbentuk rotan dan sebuah perlindungan. Antiknya, wasit tak pernah umumkan juaranya saat akhir acara.

Ritus Pengerebongan

Ritus Pengerebongan – Ngerebong atau pengerebongan diadakan tiap Minggu Pon pada Wuku Medangsia menurut kalender Bali. Arah adat ini supaya manusia selalu jaga keserasian jalinan dengan Tuhan, sesamanya, dan alam. Aktor ritus ialah umat Hindu di Pura Pangrebongan. Pelancong dikenankan melihat acara itu asal ingin memakai baju tradisi Bali. Sementara untuk wanita, harus pada kondisi suci (sedang tidak menstruasi).

Acara diawali dengan tabuhan musik tradisionil, persembahan bunga, dan penjor-penjor. Seterusnya, aktor ritus lakukan sembahyang di pura. Selanjutnya, polisi tradisi amankan jalan supaya beberapa Mangku dan Bhatara keluar pura. Lantas, mereka melingkari wantilan (tempat beradu ayam). Ritus ini dilaksanakan sekitar 3x.

Umumnya, waktu itu, beberapa Mangku dan Bhatara alami kerasukan makhluk lembut. Mereka menjerit, terkadang menangis, dan menari bersamaan alunan musik. Hal yang paling menakutkan saat satu dari orang itu menebaskan pedang ke badannya. Walau demikian tidak satu sisi juga cedera atau berdarah.

Adat Trunyan

Adat Trunyan – Ada sebuah adat unik di Dusun Trunyan, Bali, yang disebutkan Mepasah. Dalam Mepasah, mayat tidak dipendamkan, tetapi didiamkan terbujur di atas tanah. Antiknya, mayat itu cuman terbatasi pagar bambu hingga dapat kelihatan terang.

Walau tempat itu penuh mayat, benar-benar tidak tercium wewangian busuk. Masalahnya di situ ada pohon taru menyan yang sanggup mempernyerap berbau. Umur pohon ini telah beberapa ribu tahun hingga akarnya benar-benar kuat.

Kabarnya, saat sebelum adat Mepasah diaplikasikan, pohon taru menyan sering keluarkan berbau menusuk. Sesudah masyarakat menempatkan mayat di bawahnya, wewangian itu mendadak lenyap. Yakin atau mungkin tidak, jumlah mayat yang ditempatkan juga jangan melewati 11 orang, pernah menikah, dan proses meninggalnya lumrah.

Adat Mekotek

Adat Mekotek – Hindu dan tradisi Mekotek sebagai dua hal yang sama-sama terkait. Adat itu diturunkan secara temurun oleh nenek moyang pengikut Hindu di Bali. Ritusnya diadakan sehabis Hari Raya Kuningan di Dusun Munggu. Arah penerapan adat ini untuk menampik bala, menetralisir aura negatif, dan menjadikan satu umat.

Ritus diawali dengan acara jalan kaki melingkari Dusun Munggu. Masing-masing peserta bawa tongkat dengan bahan bambu. Kemudian, mereka membuat tongkat sampai membuat piramida. Saat formasi itu terlihat kuat, seorang naik ke atasnya. Dalam pada itu, beberapa orang yang menggenggam tongkat harus meredam supaya formasi tidak roboh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.