Politik Pemanfaatan Budaya di Lembata NTT Jadi Lambang Perdamaian dan Persatuan

muzweek.net – Aktivitas eksploitasi budaya Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), masuk minggu paling akhir. Sejak dibuka pada Senin (7/2/2022) lalu, aktivitas ini mengikutsertakan semua stakeholder dan warga tradisi Lembata. Masyarakat dari beragam komune dan suku, tampil dengan baju dan tariannya masing-masing. Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, menjelaskan jika aktivitas eksploitasi budaya Lembata sebagai lambang perdamaian dan persatuan. Maka dari itu, dia menyebutkan aktivitas itu sebagai ritus Sare Dame.

Oleh warga di tempat, Sere Dame menyampaikan kabar keadaan yang damai dan damai di antara manusia dengan alam, setiap orang, nenek moyang, dan Tuhan. Thomas Ola berkeyakinan, Sare Dame dapat terwujud karena ada support yang kuat dari team eksekutor, dan restu nenek moyang. Ada kepercayaan akan persekutuan nenek moyang Lewotanah Lembata untuk memberikan dukungan aktivitas ini, ucapnya dalam info tercatat yang diterima Kompas.com, Kamis (3/3/2022). Menurut dia, salah satunya langkah untuk membuat watak angkatan Lembata dengan budaya.

Watak itu akan tercipta, jika dilaksanakan secara terus-terusan. Karena itu kita sebutkan anak- anak berbudaya, katanya. Thomas ajak seluruh pihak untuk hidupkan kembali nilai-nilai lokal yang berada di semua Lembata. Hal tersebut penting, karena menurut dia penghayatan nilai-nilai budaya semakin luntur, terutamanya di angkatan muda. Saya ajak kita masih tetap ada dalam situasi budaya sampai aktivitas usai pada 7 Maret 2022, pintanya.

Ketua DPRD Lembata, Piter Gero sampaikan terima kasih ke semua warga yang ikut dalam aktivitas itu. DPRD memberikan dukungan nilai-nilai budaya yang diangkat supaya dipertahankan dan jadi kekayaan budaya warga Lembata, ucapnya.

Eksploitasi Budaya Telan Dana Rp2,5 M, Masyarakat Lembata Swadaya Bangun Jalan

Politik Pemanfaatan Budaya di Lembata NTT Jadi Lambang Perdamaian dan Persatuan

JIKA masyarakat di Beberapa daerah Kabupaten Lembata, kerjakan batas jalan Kabupaten secara swadaya, Pemda di tempat malah ngotot melangsungkan aktivitas eksploitasi budaya yang makan ongkos Rp2,5 Miliar.

Aktivitas eksploitasi budaya Lembata itu awalnya disebutkan Bupati Lembata, Dr.Thomas Ola Langoday sebagai Ritus Sare Dame. Dalam istilah lokal, Sare dame’ sebuah keadaan damai dan damai karena manusia berdamai dengan alam, manusia, Tuhan dan nenek moyang.

Tetapi pilihan kata Sare Dame’ itu memunculkan pembicaraan di kelompok masyarakat dan DPRD di tempat. Masyarakat mempermasalahkan pilihan kata sare Dame lebih ke usaha damai karena ada perselisihan yang memiliki sifat komunal. Walau sebenarnya, sejauh ini Lembata pada keadaan bebas dari perselisihan.

Karena itu, bersama Banggar DPRD Lembata, pilihan kata Sare dame’ juga diganti nomenklaturnya jadi eksploitasi budaya Lembata yang menelan ongkos Rp2,5 miliar. Aktivitas itu dikontrol 4 OPD. Walau telah berbeda nomenklaturnya, tetapi Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday, di pertemuan penyiapan aktivitas itu, Selasa (18/1/2022) masih tetap menerangkan Ikhwal Pilihan kata Sare Dame’ yang digagasnya itu.

Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday akui lega

Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday akui lega, Karena ideya itu mulai ditangani dan memberikan perkembangan memiliki arti. Walau, ia awalnya ragu dengan idenya itu. Terima kasih atas usaha kita untuk mengadakan even budaya ini. Saya lega dengar penyiapan Kepala Dinas, Camat dan Beberapa Kepala Dusun. Ini hebat, masih tetap dalam semangat Taan tou (satu hati), bergandengan tangan, kita bekerja untuk anak cucu kita, tutur Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday.

Dalam aktivitas rapat penyiapan aktivitas Eksploitasi budaya Lembata itu, Bupati Lembata, Dr.Thomas Ola Langoday menerangkan, idenya mengenai ritus perdamaian (Sare Dame’), pergi dari peristiwa di Lembata.

Banjir besar, pucuknya di tempat rekreasi, erupsi gunung berapi Ile Lewotolok, Ile Werung, gelombang pasang, jadi deskripsi, apa hidup kita sesuai alam, atau kita berperang menantang alam. Pohon, batu kita mengambil, terumbu karang, lamun mati, mangrove ditebang, di darat kita semprot tanaman terlalu berlebih.

Alam kita Seperti Ibu, bila ibu disemprotkan bahan kimia ia menangis, karena daging hancur, mata hancur. Karena itu banjir, longsor tanda ia murka, tutur Bupati Langoday menerangkan background di titelnya Ritus Sare Dame’.

Aktivitas eksploitasi budaya Lembata diperkirakan pada 7 Februari sampai 7 Maret 2022

Bupati Langoday menambah, sekarang ini orang Lembata ingin makan kepiting besar, tidak ada, lobster sulit, tembang minyak tidak ada, karena orang Lembata telah perang menantang alam. Terjadi penyakit Virus babi, hogh kolera itu karena susunan ozon kita telah hancur.

Karenanya silahkan kita berdamai, hidup sesuai alam, ungkapkan Bupati Langoday. Aktivitas eksploitasi budaya Lembata diperkirakan akan diadakan pada 7 Februari sampai 7 Maret 2022, berisi ritus tradisi 10 komune, carnaval Budaya, tarian kolosal, pameran budaya, panggung seni komune budaya, seminar budaya, talk show budaya dan Napak Tilas Pernyataan 7 Maret 1954.

Di lain sisi, komune Taman Daun menginisiasi pembuatan batas jalan Kabupaten secara Swadaya. John Batafor, pentolan Komune Taman Daun, ke Media Indonesia menjelaskan, dianya menginisiasi pembuatan batas jalan Kabupaten yang hancur kronis karena digerus banjir di Dusun Belabaja dan dusun Puor, Kecamatan Nagawutun.

Dia akui, tugas mengarah fragmen krisis, dikerjakan karena swadaya warga di tempat ditolong TNI. Material kami urunan, berbentuk semen dan material non lokal, dan masyarakat menolong dengan tenaga. Puji Tuhan beberapa fragmen krisis telah sukses kita lakukan dan masyarakat dapat bebas melancong, tutur John Batafor. (OL-13).

Posted on